SMPN 3 Sampit Minta Pengelolaan Sampah Diperketat, Bau Masih Ganggu Aktivitas Belajar
TINTABORNEO.COM, Sampit– Kepala SMPN 3 Sampit, Siti Hadijah kembali menegaskan bahwa persoalan bau dari depo sampah yang berada tepat di samping sekolah masih menjadi perhatian serius, meski telah ada beberapa perbaikan dalam dua bulan terakhir.
“Alhamdulillah sudah ada perubahan dari satu dua bulan kemarin. Kami bahkan sudah berkirim surat hingga ke bupati pada September 2025 karena bau sampah waktu itu sangat menyengat dan mengganggu proses belajar. Siswa baru di bulan Juli saja masih masa penyesuaian, dan banyak keluhan dari orang tua,” ujar Siti Hadijah, Senin (17/11/2025).
Ia menjelaskan bahwa surat itu ditindaklanjuti dengan penutupan pintu depo bagian kanan, sehingga sampah yang sebelumnya meluber sampai ke aspal kini tidak terjadi lagi. Namun Siti menegaskan bahwa perbaikan tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan inti yaitu bau sampah dan sanitasi.
“Harapan kami tidak hanya dicor atau pagarnya ditinggikan. Saat depo ini dibangun, saya sebagai kepala sekolah tidak menyetujui karena ingin anak-anak belajar dengan nyaman. Kami mendukung penuh program DLH, terbukti sekolah kami meraih Adiwiyata Nasional. Tapi anak-anak juga harus diperhatikan,” ujarnya.
Ia menagih janji pemerintah agar setiap sampah disemprot disinfektan untuk mencegah bau dan penyebaran bakteri. Genangan air di lantai depo, katanya, juga menjadi sumber bau dan harus ditangani.
“Jika depo tidak bisa direlokasi, kami minta penyemprotan rutin disinfektan. Tapi harapan besar kami tetap agar depo sampah direlokasi,” tegasnya.
Siti juga mengungkapkan bahwa lahan yang digunakan untuk depo sampah merupakan aset SMPN 3 yang kemudian dihibahkan ke pemerintah daerah. Dulunya terdapat tribun bekas MTQ yang justru banyak disalahgunakan remaja untuk perbuatan negatif, sehingga ia meminta bangunan itu dibongkar.
Namun setelah dibongkar, justru lokasi itu dijadikan depo sampah.
Jika ada pernyataan dari dinas bahwa depo sudah tidak bau, ia meminta kunjungan langsung agar kondisi bisa dilihat dari kelas yang berada tepat di samping depo.
Ketua Komisi II DPRD Kotim, Akhyanoor menegaskan bahwa pihaknya telah meninjau langsung kondisi depo tersebut.
“Sebelumnya bau sampai keluar depo. Hari ini kami turun dan memang benar masih ada bau, meski lebih ringan dari sebelumnya. Kami ingin ada perbaikan agar tidak ada bau lagi,” katanya.
Ia menyampaikan bahwa anggaran 2026 siap memperjuangkan perbaikan atap dan lantai depo serta memastikan penyemprotan disinfektan berjalan konsisten. (and)