Meski Hoaks, Isu Penculikan Anak Jadi Alarm Kewaspadaan di Kotim
TINTABORNEO.COM, Sampit – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) meminta seluruh sekolah serta orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul beredarnya isu penculikan anak yang sempat membuat resah masyarakat, beberapa waktu lalu.
Meski informasi tersebut tidak terbukti, langkah antisipasi dianggap penting demi menjaga keamanan peserta didik.
Kepala Bidang Pembinaan SD Disdik Kotim, Mahbub, mengatakan kabar penculikan anak seperti ini kerap muncul secara tiba-tiba dan sulit diverifikasi. Namun karena isu tersebut sudah memengaruhi kenyamanan di lingkungan sekolah, pihaknya segera mengambil langkah pencegahan.
“Kemarin kami bergerak cepat melakukan antisipasi karena isu sudah menyebar dan menimbulkan keresahan, baik di kalangan murid maupun pihak sekolah,” ujarnya, Sabtu (22/11/2025).
Mahbub menekankan pentingnya kehati-hatian, terutama pada jam pulang sekolah. Ia tetap menganjurkan agar siswa sekolah dasar dijemput langsung oleh orang tua atau wali sebagai bagian dari pengamanan.
Disdik turut meminta pihak sekolah memperketat pengawasan, memastikan setiap anak benar-benar dijemput oleh orang tua atau wali yang dikenal. Menurutnya, rasa cemas yang timbul di tengah masyarakat merupakan alasan kuat untuk meningkatkan kewaspadaan bersama.
“Walaupun informasinya belum terbukti, kami tetap menganggap ini penting karena sudah menimbulkan kekhawatiran,” katanya.
Terkait program sekolah siaga sebagai upaya sistematis pencegahan penculikan, Mahbub menyebut belum ada arahan atau pembahasan resmi. Sekolah, ujarnya, tidak bisa mengambil kebijakan sendiri tanpa dasar dan instruksi yang jelas.
Namun demikian, ia menilai hubungan antara sekolah dan masyarakat selama ini sudah cukup solid. Kerja sama tersebut sangat diperlukan dalam menjaga keselamatan anak, baik di lingkungan sekolah maupun perjalanan pulang.
Mahbub berharap orang tua lebih aktif berperan, mulai dari memastikan anak tidak pulang sendirian hingga segera melapor jika melihat aktivitas mencurigakan di sekitar sekolah.
“Pencegahan tidak bisa dilakukan sekolah saja, tapi membutuhkan peran aktif orang tua dan masyarakat,” tegasnya. (ri)