Upaya Lestarikan Permainan Tradisional Lewat Lomba Gasing

TINTABORNEO.COM, Sampit – Pelatihan dan perlombaan permainan tradisional gasing digelar di SMA Muhammadiyah Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sebagai bagian dari pelestarian budaya lokal di kalangan pelajar. Kegiatan ini didukung Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan, bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VIII dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim.
Kepala SMA Muhammadiyah Sampit Galuh Putri, mengungkapkan bahwa kegiatan ini baru pertama kali digelar di sekolahnya dan menjadi langkah awal untuk mendekatkan generasi muda dengan akar budayanya sendiri.
“Ini adalah pelestarian budaya lokal. Kita melokalkan, kita mengenal lagi budaya kita. Kalau bukan kita yang melestarikan budaya sendiri, siapa lagi?” ujar Galuh.
Permainan gasing, yang di daerah setempat dikenal juga dengan sebutan habayang, dipilih sebagai fokus kegiatan. Para siswa tidak hanya dikenalkan dengan sejarah dan cara memainkan gasing, tapi juga langsung berpartisipasi dalam perlombaan.
Pamong Budaya Ahli Muda Bidang Kesejarahan BPK Wilayah VIII, Yusri Darmadi, menyebut bahwa permainan seperti gasing tersebar luas di Indonesia, dengan nama dan bentuk yang berbeda di tiap daerah. Namun sayangnya, permainan ini mulai jarang dimainkan seiring berkembangnya teknologi.
“Budaya adalah identitas. Kapan lagi kita mau melestarikan budaya kita sendiri? Kegiatan ini bisa menjadi dasar untuk mengusulkan permainan gasing sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) tahun depan,” kata Yusri.
Ia menambahkan, salah satu syarat pengusulan WBTb adalah adanya dokumentasi dan proses pewarisan budaya. Kegiatan di SMA Muhammadiyah ini dinilai sebagai langkah dalam proses pewarisan tersebut, karena melibatkan langsung pelajar sebagai generasi penerus.
Sementara itu, Kepala Disbudpar Kotim Bima Ekawardhana menyambut positif kegiatan ini, yang mengangkat kembali budaya yang mulai dilupakan. “Permainan tradisional seperti gasing ini penting diperkenalkan kembali, karena saat ini anak-anak kita lebih banyak bermain lewat layar digital. Jangan sampai budaya kita hilang karena kita sendiri yang melupakannya,” ujarnya.
Setelah sesi pelatihan, sejumlah pelajar mengikuti lomba gasing dengan antusias. Satu per satu mereka mencoba memainkan gasing yang memiliki bentuk dan filosofi khas.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa dengan pendekatan yang tepat, permainan tradisional masih bisa menarik minat generasi muda. Harapannya, upaya seperti ini terus berlanjut dan diperluas agar budaya lokal tidak sekadar dikenang, tetapi benar-benar diwariskan. (dk)