Pulau Hanibung Masuk Prioritas Pembangunan 2025-2029

TINTABORNEO.COM, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menetapkan Pulau Hanibung sebagai salah satu prioritas pembangunan jangka menengah daerah dalam periode 2025-2029. Kawasan tersebut direncanakan menjadi lokasi konservasi satwa sekaligus dikembangkan sebagai destinasi ekowisata.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kotim, Alang Arianto, mengatakan bahwa tahapan awal telah dimulai dengan pembentukan tim lintas organisasi perangkat daerah (OPD).
“Pulau Hanibung ini masuk dalam lima tahun ke depan sebagai kawasan prioritas. Tim sudah kita bentuk, dan pada 2026 nanti kita akan menyusun DED (Detail Engineering Design) serta set plan-nya,” ujar Alang, Jumat (1/8/2025).
Ia menjelaskan, status lahan Pulau Hanibung yang merupakan Areal Penggunaan Lain (APL) memungkinkan pemanfaatannya dilakukan oleh pemerintah daerah. Namun, beberapa aspek teknis seperti izin penangkaran satwa tetap harus melalui prosedur yang berlaku.
“Yang perlu perizinan khusus itu satwa yang akan kita tempatkan, seperti orangutan dan buaya. Karena itu menyangkut penangkaran, jadi izinnya harus lengkap,” kata Alang.
Dalam pengembangannya, tidak akan ada ganti rugi lahan karena pemerintah bekerja sama langsung dengan masyarakat pemilik lahan di Desa Camba. Rencana pembangunan kawasan juga diselaraskan dengan 14 program prioritas Bupati Kotim.
“Warga Desa Camba sangat mendukung. Rencana ini juga menjadi solusi terhadap persoalan konflik satwa dan manusia. Misalnya buaya atau orangutan yang masuk ke permukiman, bisa direlokasi ke Pulau Hanibung,” ungkapnya.
Alang menambahkan, selain konservasi, pengembangan Pulau Hanibung juga diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui kegiatan pariwisata berbasis komunitas. Pemerintah membuka ruang bagi pelaku usaha untuk berpartisipasi dalam pembangunan fasilitas wisata di kawasan tersebut.
“Contohnya seperti di Palangka Raya, ada Pulau Kaja untuk orangutan. Orang datang naik klotok, masyarakat terlibat. Kita ingin seperti itu juga, ada pokdarwis, ada multiplier effect-nya,” tutupnya. (ri)