Kemacetan Panjang Akibat Penutupan Total Jembatan Lenggana, Dishub Kotim : Kini Sudah Dibuka Kembali

Antrean panjang kendaraan terlihat di Jembatan Sei Lenggana, Jalan Jenderal Sudirman Km 21 arah Sampit–Pangkalan Bun, Rabu (6/8/2025). (Foto: Ist)

TINTABORNEO.COM, Sampit – Penutupan total Jembatan Alternatif Sei Lenggana yang sempat memicu kemacetan panjang di ruas Jalan Jenderal Sudirman Km 21, jalur utama Sampit–Pangkalan Bun, akhirnya berakhir dan dibuka kembali.

“Infonya sudah dibuka sekarang,” kata Plt Kepala Dinas Perhubungan Kotawaringin Timur (Kotim), Raihansyah Rabu (6/8/2025).

Ia menjelaskan bahwa penutupan dilakukan mulai pukul 22.00 WIB hingga 01.00 WIB, Selasa malam. 

Langkah ini merupakan bagian dari upaya perbaikan menyeluruh yang harus segera dilakukan menyusul kerusakan pada bagian struktur jembatan alternatif.

“Setelah sebelumnya sempat digunakan, jembatan itu mengalami kerusakan. Maka kontraktor melakukan perbaikan secara total. Waktu pelaksanaan sudah kami hitung agar tidak mengganggu jam padat kendaraan, jadi ditutup total saat malam hari,” ujarnya.

Raihansyah menyebut, keputusan menutup total akses alternatif memang berdampak pada kepadatan lalu lintas. 

Namun menurutnya, hal tersebut merupakan langkah penting demi menjamin keamanan jembatan sebelum kembali digunakan oleh pengendara.

Sebelumnya, Satuan Lalu Lintas Polres Kotim telah mengumumkan jadwal penutupan jembatan untuk mempermudah proses pengerjaan. Namun, prosesnya ternyata memerlukan waktu lebih panjang dari estimasi awal. 

Hal ini dikarenakan adanya kerusakan di jembatan yang masih ditangani, sehingga antrean panjang tak terhindarkan

Seorang sopir angkutan, Aj, yang berada di lokasi saat proses perbaikan berlangsung, menceritakan bahwa awalnya hanya satu petak lantai jembatan yang dibongkar. Namun setelah dibuka, terlihat baut-baut pengikat di bagian bawah lantai sudah longgar, sehingga perbaikan harus diperluas guna memastikan kekuatan struktur.

Kondisi ini sempat menyebabkan antrean panjang kendaraan. Sebagian pengendara memilih menunggu, sementara yang lain mencoba mencari jalur alternatif agar dapat melanjutkan perjalanan mereka. (ri)