Pengembangan Bandara H Asan Sampit Tak Cukup Hanya Selesaikan Lahan PKP-PK

TINTABORNEO.COM, Sampit — Rencana pengembangan Bandara H Asan Sampit di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih dihadang berbagai persoalan meskipun proses pembebasan lahan untuk pemindahan gedung Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) telah rampung.
Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan Kotim, Rafiq Riswandi, mengungkapkan bahwa persoalan bandara tidak berhenti pada penyediaan lahan semata.
“Walaupun lahan untuk PKP-PK sudah kita selesaikan, itu belum menjadi solusi keseluruhan bagi pengembangan penerbangan di Sampit,” ujar Rafiq, Sabtu (12/7/2025).
Menurut Rafiq, Bandara H Asan Sampit menghadapi kendala signifikan terkait jenis pesawat yang bisa mendarat. Saat ini, Nam Air tercatat sebagai pesawat terakhir yang rutin melayani rute ke Sampit, namun produksinya sudah dihentikan. Maskapai lain umumnya mengoperasikan pesawat Airbus yang berukuran besar, sedangkan fasilitas bandara belum mendukung pendaratan pesawat sekelas itu.
“Selain PKP-PK, kita juga punya persoalan dengan jalan Bengkirai yang harus ditutup serta keberadaan kebun sawit di sekitar bandara yang cukup tinggi. Ini jadi hambatan keselamatan penerbangan,” katanya.
Lebih jauh, Rafiq menekankan bahwa runway bandara yang ada saat ini masih sempit. Jika pesawat besar seperti Airbus mendarat, risiko kerusakan lingkungan sekitar cukup tinggi, termasuk kemungkinan atap rumah warga yang bisa terkena hembusan angin saat pesawat berputar.
“Daya dorong pesawat besar itu sangat kuat. Jadi, meskipun gedung PKP-PK sudah dibebaskan, belum tentu kita siap menerima penerbangan pesawat besar,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kotim, Mariani, menekankan pentingnya perbaikan infrastruktur penunjang bandara. Ia mengingatkan, tanpa kesiapan fasilitas landasan pacu dan area sekitarnya, peluang Sampit untuk melayani penerbangan maskapai besar akan sulit tercapai.
“Kita harus siapkan segala aspek pendukung, tidak cukup hanya lahan. Kalau tidak, penerbangan reguler maskapai besar sulit masuk,” kata Mariani. (ri)