Kopi Gerobak Jadi Tren di Kota Sampit

Salah satu masyarakat sedang membeli kopi gerobak di Jalan Tjilik Riwut Sampit, Rabu (9/7/2025). (Foto: Apri)

TINTABORNEO.COM, Sampit – Menyeruput kopi tak lagi harus di kafe ber-AC atau tempat nongkrong kekinian. Kini, warga Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), justru banyak yang memilih menikmati kopi dari gerobak sederhana di tepi jalan.

Dalam beberapa bulan terakhir, gerobak-gerobak penjual kopi mulai ramai terlihat di berbagai sudut kota, mulai dari kawasan perkantoran, taman kota, hingga sepanjang jalan protokol. Mereka hadir sejak pagi, ada yang menetap di satu titik, ada pula yang berkeliling menggunakan sepeda listrik yang dimodifikasi jadi gerobak.

“Sudah empat bulan saya keliling bawa gerobak. Peminatnya banyak, bisa sampai 100 gelas per hari kalau cuaca cerah,” kata Budianur, salah satu penjual kopi keliling yang biasa mangkal di sekitar Jalan Tjilik Riwut Rabu (9/7/2025).

Kopi yang ditawarkan pun beragam, mulai dari kopi hitam robusta hingga kopi susu kekinian yang banyak digemari anak muda. Andri mengaku tidak khawatir soal persaingan karena pasar kopi jalanan ini masih luas.

“Biasanya pembeli itu pegawai, pelajar, sampai anak muda. Mereka suka karena praktis dan murah,” tambahnya.

Di titik lain, seperti taman kota juga ramai dengan kopi gerobak, kemudian di kawasan stadion 29 Nopember dan Nur Mentaya gerobak kopi juga tampak ramai melayani pembeli sejak pagi, sore bahkan sampai malah hari. Warga yang ingin menikmati kopi sambil santai jadi pelanggan setia.

“Saya hampir tiap hari beli di sini. Rasanya enak, harganya pas, dan bisa sekalian duduk santai lihat lalu lintas,” ujar Hermawan, salah satu pelanggan.

Fenomena menjamurnya gerobak kopi ini menunjukkan kreativitas pelaku usaha mikro sekaligus perubahan gaya konsumsi masyarakat. Harga yang terjangkau jadi daya tarik tersendiri.

“Harganya cuma Rp8 ribu. Kalau ke kafe bisa sampai Rp50 ribu. Di gerobak lebih hemat dan tetap nikmat,” ungkapnya. (ri)